Selasa, 01 Agustus 2017
Minggu, 30 Juli 2017
Sejarah Indonesia sebelum merdeka
Sebelum merdeka, negara Indonesia merasakan pahitnya penjajahan oleh beberapa negara asing. Dimulai dari portugis yang pertama kali tiba di Malaka pada tahun 1509. Portugis berhasil menguasai Malaka pada 10 Agustus 1511 yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Setelah menguasai Malaka, portugis mulai bergerak dari Madura sampai ke Ternate. Bangsa Indonesia melakukan berbagai perlawanan terhadap Portugis. Salah satu perlawan yang terkenal adalah perlawan Fatahillah yang berasal dari Demak di Sunda Kelapa (sekarang Jakarta). Fatahillah berhasil memukul mundur bangsa Portugis dan mengambil kembali Sunda Kelapa. Setelah itu nama Sunda Kelapa diubah oleh Fatahillah menjadi Jayakarta.
Masa penjajahan Portugis berakhir pada tahun 1602 setelah Belanda masuk ke Indonesia. Belanda masuk ke Indonesia melalui Banten di bawah pimpinan Cornelius de Houtman. Belanda ingin menguasai pasar rempah-rempah di Indonesia dengan mendirikan Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Banten pada tahun 1602. Karena pasar di Banten mendapat saingan dari pedagang tionghoa dan inggris maka kantor VOC pindah ke Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan, VOC mendapat perlawanan dari Sultan Hasanuddin. Berbagai perjanjian dibuat. Salah satunya adalah perjanjian Bongaya. Akan tetapi, Sultan Hasanuddin tidak mematuhi perjanjian tersebut dan melawan Belanda. Setelah berpindah-pindah tempat, akhirnya VOC sampai d Yogyakarta. Di Yogyakarta, VOC menandatangani perjanjian Giyanti yang isinya adalah Belanda mengakui mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwono 1. Perjanjian Giyanti juga memecah kerajaan Mataram menjadi Kasunan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Lalu, akhirnya VOC dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1800 setelah Belanda kalah dari Perancis.
Setelah VOC dibubarkan, penjajahan Belanda tidak berhenti. Belanda menunjuk Daendels sebagai gubernur jenderal hindia belanda. Pada masa Deandels, masyarakat Indonesia dipaksa untuk membuat jalan raya dari Anyer sampai Panarukan. Namun masa pemerintahan Daendels tidak berlangsung lama dan digantikan oleh Johannes van den Bosch. Van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa (cultuur stelsel). Dalam sistem tanam paksa, setiap desa harus menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor khususnya kopi, tebu, nila. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan (20%) dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.
Setelah 350 tahun Belanda menguasai Indonesia, pemerintahan Belanda di Indonesia digantikan oleh bangsa Jepang. Belanda menyerah tanpa syarat kepada jepang melalui perjanjian Kalijati pada tanggal 8 maret 1942. Masa pendudukan Jepang dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada 17 agustus 1945. Di Indonesia, Jepang membentuk beberapa organisasi. Organisasi yang dibuat Jepang antara lain adalah PETA (Pembela Tanah Air), Heiho (pasukan Indonesia buatan Jepang), PUTERA, Jawa Hokokai (pengganti Putera).
Perlawanan terhadap penjajahan Jepang banyak dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Di daerah Cot Plieng aceh perlawanan terhadap Jepang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil (seorang guru ngaji di daerah tersebut). Usaha Jepang untuk membujuk sang ulama tidak berhasil, sehingga Jepang melakukan serangan mendadak di pagi buta sewaktu rakyat sedang melaksanakan shalat Subuh. Dengan persenjataan sederhana/seadanya rakyat berusaha menahan serangan dan berhasil memukul mundur pasukan Jepang untuk kembali ke Lhokseumawe. Begitu juga dengan serangan kedua, berhasil digagalkan oleh rakyat. Baru pada serangan terakhir (ketiga) Jepang berhasil membakar masjid sementara pemimpin pemberontakan (Teuku Abdul Jalil) berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh, namun akhirnya tertembak saat sedang shalat. Perlawanan lain yang terkenal lainnya adalah perlawanan PETA di daerah Blitar, Jawa Timur. Perlawanan ini dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Syodanco Muradi, dan Dr. Ismail. Perlawanan ini disebabkan karena persoalan pengumpulan padi, Romusha maupun Heiho yang dilakukan secara paksa dan di luar batas perikemanusiaan. Sebagai putera rakyat para pejuang tidak tega melihat penderitaan rakyat. Di samping itu sikap para pelatih militer Jepang yang angkuh dan merendahkan prajurit-prajurit Indonesia. Perlawanan PETA di Blitar merupakan perlawanan yang terbesar di Jawa. Tetapi dengan tipu muslihat Jepang melalui Kolonel Katagiri (Komandan pasukan Jepang), pasukan PETA berhasil ditipu dengan pura-pura diajak berunding. Empat perwira PETA dihukum mati dan tiga lainnya disiksa sampai mati. Sedangkan Syodanco Supriyadi berhasil meloloskan diri.
Pemerintahan Jepang di Indonesia berakhir setelah Jepang kalah dari tentara sekutu di Perang Dunia II. Dua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom oleh tentara sekutu. Setelah mendengar adanya kekalahan Jepang, dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Cosakai yang diketuai oleh Radjiman Widyodiningrat. Nama BPUPKI diganti menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Inkai untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan bangsa Indonesia untuk merdeka. Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Namun pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang. Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan ‘hadiah’ dari Jepang. Setelah mendengar Jepang menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke rumah Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara. Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan. Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadiperistiwa Rengasdengklok. Perisiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan terhadap Soekarno dan Hatta oleh golongan muda untuk mempercepat pelaksanaan proklamasi. Setelah kembali ke Jakarta dari Rengasdenglok, Soekarno dan Hatta menyusun teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda yang dibantu oleh Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik. Setelah konsep selesai, Sayuti Melik menyalin dan mengetik naskah tersebut. Pada awalnya pembacaan proklamasi akan dilakukan di Lapangan Ikada, namun berhubung alasan keamanan dipindahkan ke kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56.
Senin, 17 Juli 2017
Dosen Kaliber Internasional ada di STKIP PGRI Sidoarjo
Sekelumit laporan reporter majalah media berkaitan dengan hasil wawancara dengan dosen muda yang handal. Sebut saja sang dosen dengan panggilan YP. Dosen muda berkaca mata ini saya temui di Campus beatiful little Sidoarjo. YP saat diwawancarai media terkesan begitu mengasikkan. YP memang membawa inspirasi dan memotivasi dosen-dosen lainnya untuk selalu berbenah diri. Hal ini perlu dilakukan karena kondisi era MEA dan digital. Jika kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, maka kita akan tergerus dengan sendirinya.
Dosen muda ini memiliki skill bahasa Inggris di level IELTS. Wow...fantastis, pencapaian yang mengagumkan dan membanggakan STKIP PGRI Sidoarjo. Ia masih belia, berkaca mata dengan kompetensinya yang gemilang. Semoga bea siswa ke Eropa (Amsterdam) yang dipilihnya dapat meningkatkan profesionalismenya .Campus “Beautiful Little” jangan di lupakan. The founding father pesan “ JAS MERAH ”(jangan sekali-kali melupakan sejarah).
Yudi Prasetyo, MA, Dosen prodi Sejarah ini mengambil bea siswanya di Amsterdam karena waktu kuliah S3 di Eropa berlangsung 3-4 tahun, Kalau di Amerika sekitar 5 tahun. Alasan berikutnya adalah kosentrasi belajar ( study) di Belanda memang lebih tepat. Hal ini sesuai dengan bidang sejarah sebelum kemerdekan Indonesia yang akan saya pelajari.Negara Belandalah yang memang tepat, karena negara tersebut menjajah NKRI selama 350 tahun. Peninggalan - peninggalan sejarah Indonesia banyak yang di ambil oleh Belanda.
Lebih lanjut, ia memiliki target ingin mengembangkan penelitian tentang sejarah kabupaten Sidoarjo. Saya ini, orangnya suka tantangan dan orang tua mendukung hal ini. Saya mendapatkan bea siswa ini rasanya bersyukurlah, kampus tercinta STKIP PGRI Sidoarjo merindukan dosen yang kredibel di bidangnya dan mendukung dosen yang ingin meningkatkan ilmunya meraih doktoral.
Insya Allah, bila gelar doktoral sudah saya raih, berikutnya jenjang gelar profesor akan saya kejar, tutur Yudi Prasetyo. Impian ini di usahakan untuk bisa terwujudkan dengan sepenuh hati di sertai do’a yang tulus ikhlash, semoga berhasil. . . .amien. Yang muda, yang berkarya.(gus)* **
SD Kreatif An - Nur Terkelola dengan Baik
Pembiayaan Anggaran Sekolah kita buat selama satu (1)tahun dan sudah terjadwalkan.Oleh karena itu awal tahun ajaran 2017-2018 tanggal 17 Juli 2017 tinggal pelaksanaannya. Program sekolah cukup jelas dan mendetail.Inilah sala satu unsur pengeloaan yang baik.
Kepala sekolah SD Kreatif An Nur Surabaya,Dra. Hj. Purmiasih,MM mengatakan bahwa sekolah ini masuk kategori B,dengan rata-rata nilai 234,88. Nilai terendah 132,0 dan tertinggi 285,0. ( sumber dari Dinas Pendidikan Surabaya).
Lebih lanjut beliau sampaikan programkegiatan tahunan di awali dengan kegiatan LOS (17 -19 Juli 2017) dan di akhiri dengan pelepasan siswadan nuzulul Qur’an,31 Mei 2018. Kegiatan tahunan tersebut sudah terjadwal dengan rapi.
Purmiasih,MM menandaskan di sekolah Diniyah An Nur Surabaya masuk rangking I. Hal ini memang membutuhkan tim work yang handal dalam pencapaiannya. Untuk guru-guru SDnya kami akan berikan traning-training dalam peningkatan kwalitas pembelajaran di kelas,di ikutkan KKGdan MGMP. Satu harapan yang diinginkan adalah pencapaian guru-guru yang bermutu dan profesional. Untuk keperluan siswa-siswi,kami memberikan ketrampilan-ketrampilan hidup mandiri sejak dini. Anggaran biaya pendidikan berasal dari sekolah/yayasan,pemkot Surabaya,provinsi Jawa Timur dan pusat (Jakarta) berupa BOS (Biaya Operasional Sekolah) dan BOPDA (Biaya Operasional Daerah).
SD Kreatif An Nur memberlakukan aturan khusus bagi yatim piatu gratis dan pihak sekolah memberi seragam sekolah dengan cuma-cuma pula. Budaya 5 hari sekolah di sekolah ini sudah ada sejak awal, jadi bagi kami peraturan perintah yang diberlakukan di tahun ajaran 2017-2018 untuk jenjang sekolah dasar sudah biasa.
Kepala sekolah SD Kreatif An Nur, Hj.Pyrmiasih,MM menyarankan agar guru-guru memiliki kompetensi, komitmen profesi dengan kinerja yang bagus. Agar mutu pendidikan semakin tahun semakin bagus.
Bagi orang tua / wali murid yang peduli pendidikan, saya menghimbau agar memahami bahwa pendidikann itu penting, anak-anak Indonesia wajib bersekolah. (gus).***
Langganan:
Postingan (Atom)



